Herman Deru Kembali Digeruduk soal Karhutla, Mahasiswa Pertanyakan Banpres Rp100 Miliar
Katonyo.com, Palembang - Penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumatera Selatan yang belum kunjung mereda kembali menuai sorotan.
Setelah sebelumnya didatangi massa dari kalangan LSM, kini giliran ratusan mahasiswa Universitas Sriwijaya (Unsri) dan UIN Raden Fatah Palembang mendatangi kantor Gubernur Sumsel, Senin (5/10/2026).
Dalam aksi tersebut, mahasiswa memberikan kartu merah kepada Gubernur Sumsel Herman Deru sebagai simbol protes terhadap penanganan karhutla dan kabut asap yang dinilai belum memberikan hasil yang diharapkan.
Mahasiswa mendesak pemerintah mempercepat penanganan karhutla yang hingga kini masih menimbulkan kabut asap di sejumlah wilayah.
“Kami sudah tidak sanggup dengan kondisi asap seperti ini. Masyarakat butuh udara yang layak untuk bernapas, bukan hanya janji penanganan,” seru mahasiswa dalam aksi tersebut.
Mereka juga mempertanyakan penggunaan Bantuan Presiden (Banpres) sebesar Rp100 miliar yang dialokasikan untuk penanganan karhutla di Sumsel.
Dalam penyampaiannya, mahasiswa menyoroti dampak kabut asap terhadap masyarakat.
Mereka menyebut kondisi udara yang buruk telah menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi ibu dan anak-anak, sementara masyarakat yang bekerja di luar ruangan tetap harus beraktivitas di tengah kondisi udara yang dinilai berbahaya.
Mahasiswa juga menyinggung aktivitas pendidikan yang terdampak hingga sejumlah sekolah harus menerapkan pembelajaran secara daring.
Mereka membawa persoalan tersebut sebagai bagian dari keresahan masyarakat yang mereka temui di lapangan.
Bagi mahasiswa, tuntutan untuk mendapatkan penjelasan pemerintah dinilai wajar karena masyarakat mengetahui adanya Banpres Rp100 miliar untuk penanganan karhutla di Sumsel.
Dana tersebut dialokasikan Rp30 miliar untuk Pemprov Sumsel melalui Satgas Karhutla, serta masing-masing Rp15 miliar untuk Ogan Ilir dan Banyuasin, dan Rp20 miliar untuk Musi Banyuasin serta Ogan Komering Ilir (OKI).
Mahasiswa mempertanyakan sejauh mana anggaran tersebut telah digunakan dan mengapa kabut asap masih dirasakan masyarakat ketika penanganan karhutla terus dilakukan.
Menanggapi tuntutan mahasiswa, Herman Deru mengatakan kedatangan mereka ke Pemprov Sumsel merupakan hal yang tepat.
“Teman-teman mahasiswa datang ke Pemprov itu adalah alamat yang benar,” ujarnya.
Terkait Banpres Rp100 miliar, Herman Deru menjelaskan penggunaannya tidak bisa dilakukan secara bebas karena harus mengikuti petunjuk teknis dari pemerintah pusat.
“Tidak boleh berimprovisasi dalam hal pembelanjaannya,” tegasnya.
Ia mengatakan sejumlah pengadaan peralatan untuk penanganan karhutla, seperti mobil tangki, kendaraan pemadam kebakaran dan peralatan lainnya, masih dalam proses tender.
Deru juga menjelaskan penanganan karhutla melibatkan sekitar 12 ribu personel yang terdiri dari TNI, Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), relawan dan unsur lainnya.
Untuk dukungan udara, Sumsel mendapat bantuan lima helikopter. Namun, tiga unit dalam kondisi aktif, sedangkan dua lainnya menjalani perawatan.
Salah satu helikopter aktif juga sempat dipinjamkan untuk membantu penanganan karhutla di Lampung.
Menurut Deru, satu helikopter dapat melakukan sekitar 30 hingga 40 kali water bombing dalam sehari. Namun, operasi udara juga membutuhkan sejumlah persetujuan dan koordinasi, termasuk dengan AirNav.
Terkait pemantauan titik panas, pemerintah menggunakan aplikasi untuk memantau hotspot. Namun, Deru menegaskan keberadaan hotspot tidak serta-merta berarti terjadi kebakaran.
“Hotspot ini tidak bisa diidentikkan langsung bahwa itu kebakaran. Hotspot bisa saja menunjukkan adanya asap, tetapi belum tentu api terlihat,” jelasnya.
Ia mengatakan karhutla dipengaruhi dua faktor, yakni alam dan manusia. Untuk kebakaran yang disebabkan manusia, penegakan hukum tetap dilakukan.
“Faktornya ada dua, faktor alam dan manusia. Kalau manusia, penegakan hukumnya sudah dilaksanakan sebijak mungkin,” katanya.
Deru juga menyebut penanganan di lapangan melibatkan banyak unsur yang bekerja bersama.
“Teman-teman TNI, Polri bersama masyarakat all out. Kami mengorkestrasi apa yang diperbuat oleh teman-teman di lapangan,” kata Deru.
Di tengah tuntutan mahasiswa agar penanganan karhutla dipercepat, Deru menyampaikan permohonan maaf karena kabut asap masih dirasakan masyarakat.
“Bahwa sampai saat ini asap belum reda, saya sebagai gubernur menyampaikan permohonan maaf atas kejadian ini,” kata Herman Deru.
Ia memastikan pemerintah akan terus melakukan upaya penanganan dengan mengerahkan kekuatan yang tersedia.
“Kita tentu akan terus berjuang dengan segala kemampuan yang kita miliki, baik pasukan darat, pasukan udara juga doa,” ujarnya.