Sempat Sesak Napas, Anak 7 Tahun di Palembang Meninggal Mendadak di Tengah Kabut Asap
Katonyo.com, Palembang - Morly Holau Nauriska (7) binti Iskandar AR, warga sekitar TPU Talang Petai Kelurauan Plaju Darat Kecamatan Plaju Kota Palembang, meninggal dunia secara mendadak setelah mengalami muntah-muntah, sakit kepala hingga sesak napas di tengah kondisi kabut asap yang menyelimuti kawasan tersebut.
Morly meninggal dunia pada Selasa 6 Oktober 2026 sekitar pukul 16.05 WIB, setelah sebelumnya sempat mendapat perawatan di RS Pertamina Plaju. Ia diketahui hanya sempat menjalani perawatan selama satu malam.
Keluarga menyebut, sebelum mengalami keluhan kesehatan, kondisi Morly terbilang sehat. Bahkan, sehari sebelum sakit, anak tersebut masih bermain seperti biasa bersama teman-temannya.
“Sehari sebelumnya itu dia masih sempat main, masih sehat. Kemudian mulai mengalami muntah-muntah, sesak napas, sakit kepala bagian belakang, kemudian dibawa ke rumah sakit,” ujar paman Morly, Frans Taurus kepada katonyo.com, Rabu (7/10/2026).
Menurut Frans Taurus, Morly kemudian dibawa ke RS Pertamina Plaju untuk mendapatkan pemeriksaan. Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, pihak rumah sakit menyebut terdapat infeksi berdasarkan hasil pemeriksaan.
Namun, keluarga mengaku belum mendapatkan penjelasan secara rinci mengenai jenis maupun lokasi infeksi yang dialami Morly.
“Dari diagnosa rumah sakit Pertamina dikatakan dia mengalami infeksi. Tapi tidak dijelaskan infeksinya di mana. Apakah di paru-paru atau di mana, itu tidak dijelaskan,” katanya.
Rencananya, Morly masih akan menjalani pemeriksaan lanjutan. Namun, kondisi anak tersebut justru memburuk hingga akhirnya meninggal dunia.
Frans Taurus mengatakan, sebelum meninggal Morly juga sempat mengalami kejang-kejang. Keluarga juga menemukan adanya lendir di bagian tenggorokannya.
“Dia sempat kejang-kejang. Kemudian dicek, ada lendir di tenggorokan,” ungkapnya.
Selain muntah dan sakit kepala, Morly juga sempat mengalami sesak napas.
“Iya, salah satunya sesak juga. Di tenggorokan pun ada lendir keluar,” ujarnya.
Morly sendiri disebut tidak memiliki riwayat penyakit sebelumnya. Kondisi itu membuat keluarga semakin terpukul lantaran perubahan kondisi kesehatan terjadi begitu cepat.
“Tidak ada riwayat penyakit sebelumnya. Bahkan sehari sebelumnya masih sempat main,” kata Frans Taurus.
Pihak keluarga kemudian mempertanyakan keterangan mengenai penyebab kematian Morly. Menurut Frans Taurus, keterangan dari rumah sakit menyebut penyebab kematian karena jantung berhenti berdetak.
“Surat keterangan dari pihak rumah sakit menyatakan anak itu meninggal karena jantungnya berhenti berdetak. Itu sangat awam sekali jawabannya. Tidak perlu orang medis menjelaskan, kalau jantung berhenti berdetak, makhluk hidup mana pun pasti begitu,” katanya.
Meski demikian, keluarga belum memastikan bahwa kabut asap merupakan penyebab kematian Morly. Namun, kondisi udara di lingkungan tempat tinggal korban yang dipenuhi asap membuat keluarga khawatir adanya kaitan antara paparan asap dengan kondisi kesehatan yang dialami korban.
Frans Taurus mengatakan, kawasan tempat tinggal Morly di sekitar Tegal Binangun memang tengah diselimuti kabut asap. Bahkan, kondisi tersebut masih dirasakan keluarga hingga saat ini.
“Banyak asap. Hari ini pun masih banyak asap di rumahnya dia, di daerah seputaran TPU Talang Petai, Tegal Binangun,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi kabut asap juga dirasakan oleh warga yang datang melayat. Keluarga dan warga disebut tidak kuat berlama-lama berada di luar rumah karena mata terasa panas dan kepala mulai pusing.
“Semalam yang ada kumpul-kumpul takziah ini kami tidak kuat untuk berlama-lama di luar, outdoor. Karena memang takziah kan di luar rumah. Sebagian di dalam rumah dan ada yang di luar. Dan itu pun termasuk kami sudah mengalami, gara-gara di luar itu kepala agak pusing, mata panas, perih,” ungkapnya.
Morly merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Kepergian Morly juga membuat teman-teman sekolahnya terkejut. Sebagian dari mereka datang melayat karena masih tidak percaya anak yang sebelumnya mereka lihat bermain bersama tiba-tiba meninggal dunia.
“Mereka kaget, kok kemarin masih bisa main, ini tiba-tiba datang meninggalnya terlalu cepat. Itu yang bikin kita agak shock,” katanya.
Morly telah dimakamkan pada Rabu (7/10/2026) sekitar pukul 10.00 WIB.
Keluarga kini berharap pemerintah mengambil langkah nyata menyikapi kabut asap yang terjadi di Palembang, terlepas dari apa pun nantinya hasil medis mengenai penyebab kematian Morly.
“Artinya pemerintah itu buatlah aksi yang nyata dan kurangi. Jangan sampai ada Morly-Morly yang lain setelah ini. Karena apa pun namanya, ini kejadian, entah musibah atau apa, tetap diperlukan tindakan dari pemerintah, tindakan dari pembuat keputusan,” tegas Frans Taurus.
Ia mengatakan, kondisi asap membuat keluarga dan masyarakat khawatir terhadap kemungkinan dampak kesehatan yang ditimbulkan.
“Kalau asap itu tidak ada, apa pun penyebab kematiannya pasti tidak akan kita menduga-duga bahwa itu karena asap. Kalau asap itu tidak ada, kan begitu,” ujarnya.
Menurut Frans Taurus, keluarga tidak ingin kejadian yang menimpa Morly justru terulang kepada anak-anak lainnya.
“Jadi maksud kita itu aksi nyata dari pemerintah. Apa pun penyebab kematiannya, asap ini harusnya tidak ada. Jangan sampai ada lagi kejadian seperti ini,” pungkasnya.