Pencarian

Kontak

Asap Karhutla Ancam Ambisi Palembang Jadi Kota Transit Wisata, GIPI Sebut Kunjungan Turun 20 Persen

Tama
Tama Redaksi · Minggu, 04 Oktober 2026 · 11:06:00 WIB · Editor: Mohammad
Asap Karhutla Ancam Ambisi Palembang Jadi Kota Transit Wisata, GIPI Sebut Kunjungan Turun 20 Persen

Katonyo.com, Palembang - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai dirasakan dampaknya oleh pelaku usaha pariwisata di Sumatera Selatan.

Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Sumsel menyebut keluhan dari pelaku usaha terus berdatangan seiring memburuknya kondisi udara akibat asap. 

Dampaknya, tingkat kunjungan wisatawan disebut mengalami penurunan sekitar 20 persen.

Ketua GIPI Sumsel, Herlan Aspiudin, mengatakan pihaknya hampir setiap hari menerima laporan dari pelaku usaha pariwisata yang terdampak kondisi tersebut.

"Kurang lebih 20 persen penurunan akibat asap karhutla," kata Herlan, yang akrab disapa Babe Herlan kepada katonyo.com, Minggu (4/10/2026).

Menurutnya, dampak tersebut tidak hanya dirasakan destinasi wisata, tetapi juga sektor pendukung seperti hotel dan restoran.

Kondisi ini menjadi perhatian karena sebagian besar destinasi wisata di Palembang dan Sumsel berada di ruang terbuka.

Herlan khawatir apabila kabut asap berlangsung dan pemberitaannya terus meluas, kondisi tersebut dapat membentuk citra buruk terhadap Palembang dan Sumsel sebagai daerah tujuan wisata.

"Orang pasti takut ke Palembang. Ini bisa menurunkan tingkat keterisian hotel, restoran dan kunjungan ke destinasi," ujarnya.

Kekhawatiran itu dinilai semakin serius karena GIPI saat ini tengah mendorong Palembang dan Sumsel agar mampu mengambil posisi sebagai kota transit pariwisata dalam dua hingga tiga tahun mendatang.

Konsep tersebut berkaitan dengan posisi Palembang yang dinilai strategis sebagai titik persinggahan perjalanan darat dari berbagai wilayah di Pulau Sumatera menuju Pulau Jawa, terlebih jika pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera semakin terhubung dalam beberapa tahun ke depan.

Herlan menggambarkan, masyarakat yang melakukan perjalanan dari wilayah ujung Sumatera menuju Jawa akan membutuhkan titik persinggahan untuk beristirahat.

Palembang dinilai memiliki peluang untuk mengambil posisi tersebut dengan menyiapkan hotel, restoran, tempat hiburan serta destinasi wisata yang menarik.

"Sumsel sangat berpeluang menjadi kota transit," katanya.

Namun, peluang tersebut menurut Herlan harus dipersiapkan sejak sekarang. Sumsel dinilai tidak boleh kehilangan momentum dan kalah cepat dari provinsi tetangga seperti Lampung maupun Jambi.

Di sisi lain, kabut asap justru menjadi persoalan yang dapat mengganggu upaya tersebut. 

Menurut Herlan, wisatawan maupun investor tentu akan mempertimbangkan kondisi lingkungan sebelum datang atau menanamkan modal.

"Kalau ada asap begini, bagaimana? Orang akan berpikir mau investasi, mau berkunjung ke kota ini," ujarnya.

Ia juga menyinggung dampak pemberitaan mengenai kabut asap yang tidak hanya diketahui masyarakat lokal, tetapi telah menyebar ke tingkat nasional hingga luar negeri. 

Kondisi itu dikhawatirkan ikut memengaruhi persepsi terhadap Palembang sebagai tujuan wisata.

Herlan mengatakan Palembang sebenarnya memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai kawasan transit sekaligus tujuan wisata.

Karena itu, peningkatan kualitas hotel, restoran, infrastruktur dan destinasi menjadi bagian penting dari persiapan tersebut.

Menurut dia, persoalan karhutla dan asap tidak bisa hanya dilihat dari sisi penanganan kebakaran, tetapi juga dampaknya terhadap sektor ekonomi lainnya, termasuk pariwisata.

GIPI, kata Herlan, berharap pemerintah daerah dapat lebih cepat melakukan konsolidasi dengan wilayah-wilayah yang menjadi sumber karhutla untuk mengetahui perkembangan titik panas dan mengambil tindakan pemadaman secepat mungkin.

"Seharusnya gubernur harus rapat dengan wilayah-wilayah yang banyak karhutlanya, konsolidasi bagaimana perkembangan titik hotspot, lalu tindakan padam dengan cepat," katanya.

Ia juga menyebut pelaku usaha hotel berharap adanya kebijakan yang dapat membantu mereka menghadapi penurunan aktivitas akibat kabut asap, termasuk permintaan penundaan atau keringanan pajak sektor hotel kepada Pemerintah Kota Palembang.

Herlan menegaskan GIPI akan terus menampung keluhan pelaku usaha pariwisata dan menyampaikannya kepada pemerintah sebagai bahan evaluasi.

"Kami tiap hari menerima laporan dari pelaku pariwisata. Saya tampung aspirasi mereka, kemudian saya mediasi ke penguasa atau pemerintah," ujarnya.

Bagi GIPI, persoalan asap saat ini bukan hanya menyangkut berkurangnya wisatawan dalam jangka pendek.

Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut dikhawatirkan mengganggu upaya membangun citra Palembang sebagai salah satu pusat persinggahan dan pariwisata di Sumatera.

Terlebih, kata Herlan, indikator dampaknya pada akhirnya juga dapat terlihat dari penerimaan daerah. 

Jika aktivitas hotel, restoran dan destinasi menurun, maka pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor tersebut berpotensi ikut terdampak.

Follow katonyo.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Tama
Profil Penulis Tama

Editor: Mohammad

Lihat Profil

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks