Katanyo.com, Palembang - Klarifikasi Wali Kota Palembang Ratu Dewa atas ucapan "enjoy" di tengah krisis kabut asap justru memanaskan suasana. Alih-alih meredam suasana, penjelasan yang mengubah makna kata tersebut malah memicu sindiran tajam.
"Beliau tiba-tiba tampil seperti pakar linguistik yang merasa punya otoritas menentukan makna sebuah istilah. Pertanyaannya, dasar akademiknya apa?" tegas Ade Indra Chaniago, Direktur Eksekutif Pusat Studi Kebijakan dan Politik (PSKP), Rabu (7/10/2026).
Menurutnya, setiap pernyataan kepala daerah punya bobot dan konsekuensi publik. Posisi tinggi menuntut kehati-hatian, bukan memutarbalikkan arti kata sesuka hati.
"Saya kira Wali Kota Ratu Dewa perlu lebih hati-hati dalam mengeluarkan pernyataan ke publik. Jangan sampai karena posisinya sebagai Wali Kota, semua istilah kemudian ditafsirkan sesuka hati," katanya.
Ade juga menyinggung latar belakang Ratu Dewa yang tengah menempuh Program Doktor Administrasi Publik. Menurutnya, hal tersebut tidak serta-merta membuat Ratu Dewa memiliki otoritas untuk menentukan makna sebuah istilah dari perspektif linguistik.
Menurut Ade, jangan sampai seorang kepala daerah berbicara hanya karena merasa memiliki panggung dan kewenangan. Setiap pernyataan kepala daerah memiliki konsekuensi publik dan dapat membentuk persepsi masyarakat.
Ia juga mengingatkan bahwa semakin tinggi jabatan, semakin besar pula tuntutan untuk berpikir sebelum berbicara, termasuk dalam membedakan kewenangan jabatan dengan tafsir pribadi.
"Jangan asal njeplak hanya karena merasa punya panggung dan kewenangan. Setiap pernyataan seorang kepala daerah punya konsekuensi publik dan bisa membentuk persepsi masyarakat," Ujar ade.
Ade menegaskan, jika Ratu Dewa ingin berbicara soal bahasa, gunakan kaidah linguistik yang benar. Jika menyampaikan kebijakan, sampaikan dengan argumentasi yang jelas dan nyata, bukan mencampuradukkan keduanya demi membela diri.
"Jangan sampai publik kemudian bertanya, ini pernyataan seorang kepala daerah atau sekadar pendapat pribadi yang kebetulan disampaikan dari kursi Wali Kota?," Jelasnya.
Menurutnya, kritik tersebut bukan berarti melarang Ratu Dewa untuk berpendapat. Justru karena Ratu Dewa berada pada posisi sebagai Wali Kota, setiap pernyataan yang disampaikan kepada publik memiliki konsekuensi dan harus dipikirkan secara matang.
"Ini bukan soal melarang Wali Kota berpendapat. Justru karena beliau Wali Kota, semakin tinggi jabatan, semakin besar pula tuntutan untuk berpikir sebelum bicara," tuturnya.
Sebelumnya, Ratu Dewa menjelaskan bahwa ucapan "enjoy" dalam wawancaranya dengan wartawan IDN Times Sumsel, yang videonya kemudian viral, bukan bermakna senang melihat warga menderita.
Ia memaknainya sebagai sikap tenang pemimpin agar tidak ikut panik saat krisis melanda.
Ketenangan itu, kata dia, bukan berarti tidak peduli, melainkan cara agar tetap fokus mencari solusi dan melindungi masyarakat.
Ia juga mengklaim telah mengerahkan puskesmas, mendistribusikan masker, serta mengatur penyiraman jalan dan pasokan air bersih sebagai langkah nyata penanganan masalah.