Katanyo.com, Banyuasin : Persoalan sampah di sepanjang Jalan Raya Talang Keramat kembali menjadi sorotan.
Tumpukan sampah terlihat berserakan di sisi badan jalan, menciptakan pemandangan kumuh dan berpotensi mengganggu kenyamanan maupun kesehatan masyarakat yang melintas dan tinggal di sekitar kawasan tersebut.
Kondisi seperti ini disebut bukan persoalan baru. Masalah sampah di sejumlah titik Jalan Raya Talang Keramat telah berlangsung bertahun-tahun, namun hingga kini dinilai belum mendapatkan solusi yang benar-benar menyentuh akar persoalan.
Koordinator Komunitas Masyarakat Anti Korupsi Indonesia K-MAKI), Sepriadi Pratama, menilai pemerintah, khususnya pihak kecamatan dan kelurahan, tidak boleh hanya mengandalkan pengangkutan sampah setelah menumpuk.
“Kalau setiap hari hanya diangkut setelah sampah menumpuk, itu namanya menangani akibat, bukan menyelesaikan masalah. Pemerintah harus membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih tertib dan permanen,” tegas Sepriadi, Sabtu (12/9/2026).
Menurutnya, keberadaan kendaraan dinas kebersihan yang mengangkut sampah setiap pagi patut diapresiasi.
Namun, langkah tersebut akan jauh lebih efektif apabila dibarengi dengan penyediaan bak atau kontainer sampah di titik-titik yang selama ini menjadi lokasi pembuangan liar.
Dengan adanya tempat pembuangan yang jelas, masyarakat tidak memiliki alasan untuk membuang sampah sembarangan di pinggir jalan.
Pemerintah juga akan lebih mudah mengatur jadwal pengangkutan dan melakukan pengawasan.
“Kalau memang titik itu terus menjadi lokasi masyarakat membuang sampah, kenapa tidak disediakan bak sampah? Pemerintah seharusnya membaca pola di lapangan. Jangan menunggu sampah menggunung baru bertindak,” ujar Sepriadi.
Ia juga mempertanyakan efektivitas pengawasan di lapangan. Sebab, jika persoalan tersebut telah berlangsung bertahun-tahun, berarti ada persoalan yang lebih mendasar dalam perencanaan, pengawasan, edukasi masyarakat, hingga pengelolaan fasilitas persampahan.
Tumpukan sampah di tepi jalan bukan hanya persoalan estetika. Sampah yang dibiarkan terbuka dapat menimbulkan bau, mengundang lalat dan tikus, menyumbat saluran air ketika terbawa hujan, serta berpotensi menciptakan lingkungan yang tidak sehat.
Selain itu, keberadaan sampah yang memanjang di bahu jalan juga menunjukkan bahwa persoalan kebersihan belum ditangani sebagai bagian dari penataan kawasan dan pelayanan publik.
Sepriadi menegaskan, pemerintah kecamatan dan kelurahan semestinya tidak bekerja secara reaktif. Diperlukan pemetaan titik rawan pembuangan sampah, penyediaan fasilitas yang memadai, jadwal pengangkutan yang konsisten, pemasangan imbauan atau larangan membuang sampah sembarangan, serta pengawasan terhadap pelanggaran.
“Masyarakat memang harus disiplin membuang sampah pada tempatnya. Tetapi pemerintah juga punya kewajiban menyediakan tempat dan sistem yang memungkinkan masyarakat berperilaku tertib. Jangan seluruh kesalahan dibebankan kepada masyarakat ketika fasilitasnya tidak memadai,” katanya.
Ia meminta pihak terkait menjadikan persoalan sampah di Jalan Raya Talang Keramat sebagai evaluasi serius, bukan sekadar persoalan yang diselesaikan setiap pagi ketika petugas kebersihan datang.
“Jalan raya adalah wajah suatu wilayah. Kalau yang terlihat justru tumpukan sampah bertahun-tahun, pertanyaannya sederhana: sebenarnya pemerintah hadir untuk menyelesaikan masalah ini atau hanya membersihkan ketika masalahnya sudah terlihat?” pungkas Sepriadi.
Kondisi tersebut diharapkan mendapat perhatian dari pemerintah daerah, khususnya pihak kecamatan dan kelurahan setempat.
Masyarakat berharap persoalan sampah di sepanjang Jalan Raya Talang Keramat dapat ditangani secara lebih teratur, termasuk dengan penyediaan fasilitas tempat pembuangan sampah di sejumlah titik yang selama ini menjadi lokasi penumpukan.